where people ngobrol joyce...

BAHNHOFSTRASSE The eyes that mock me sign the way Whereto I pass at eve of day. Grey way whose violet signals are The trysting and the twining star. Ah star of evil! star of pain! Highhearted youth comes not again Nor old heart`s wisdom yet to know The signs that mock me as I go. (james joyce)

Kamis, 06 Desember 2012

11 Tahun Baca Finnegan Wake

http://www.videoportal.sf.tv/video?id=da3e3285-abcf-4f7b-90c0-5896db0bd331

11 Tahun Baca Finnegan Wake. 
Tebal novel 628 halaman, dipimpin oleh Fritz Senn, ketua Yayasan James Joyce di Zürich, Switzerland.

Rabu, 05 Desember 2012

Nikmatnya Baca Ulang Karya-Karya James Joyce


oleh Jörg W. Rademacher
(Penulis Biografi Joyce)


Pada saat reading group novel Ulysses selesai, selasa 30 Oktober 2012 dilanjutkan dengan sebuah pembeberan dari seorang penulis biografi James Joyce bernama Jörg W. Rademacher. Selebaran kecil tentang acara tambahan ini sebagai berikut:

Jörg W. Rademacher
The Joys of Re-Reading James Joyce`s Works.
A Biographer Talks Back

Sejak Joyce dinobatkan menjadi seorang penulis klasik modern, tak lama lagi menjadi ajang kritik sehari-hari. Rademacher, seorang penulis biografi terbantu dengan karya-karya Joyce yang belum atau sudah diterbitkan. Seperti harapan Joyce sendiri untuk menemukan “Catatan Estetika.“ Dari pendekatan karya-karya Joyce itu ia menemukan “kenikmatan membaca ulang karya-karya Joyce.“

Mahasiswa silakan datang!

Sekitar 20 orang hadir pada acara sederhana ini. Mereka sebagian besar para penikmat karya Joyce yang sudah bertahun-tahun. Aku perhatikan, hanya segelintir dari kawan-kawanku yang tadi ikut reading bersama, menghadiri acara ini. Maklum memang waktunya mulai pukul 19.30, sehingga orang yang rumahnya jauh pasti akan malas hadir.

Penulis biografi asal Jerman ini membuka dengan janji, akan menyerahkan banyak foto dari tempat-tempat yang pernah ditempati atau didatangi Joyce dari Irlandia, Trieste, Paris kepada Yayasan James Joyce di Zürich.

Ia memperlihatkan foto-foto itu di layar lebar sambil menjelaskan. Selain itu ia juga menunjukkan tulisan Aesthetic Notes. Ia tegaskan, “Saya menulis tentang apa yang saya maui, pertama dengan membicarakan novel setebal 400 halaman dalam bahasa Inggris. Antara Stephen Hero dan The Young Artist punya perbedaan secara seni. Puisi-puisi Joyce juga beda dengan kumpulan puisinya dengan judul Chamber Music.

Rademacher menunjukkan foto-foto hitam putih kota Dublin. Terlihat ada menara setinggi 42 meter dan patung, setelah 2 tahun berikutnya, menara itu rubuh. Ada pula foto kota Dublin dari atas menara. Dilanjutkan foto Martello Tower. Saat foto ini ditayangkan, Rademacher cerita, pernah ada orang yang tanya kepada seorang pendeta Katolik di Dublin tentang James Joyce. Pendeta itu jawab,“No, you may not talk about him.“

Menurutnya Joyce menulis Finnegans Wakes dalam bentuk puisi dengan muatan parodi. Joyce menulis tentang Oscar Wilde dan Pamela, karena mereka itu korban dari pemerintah Inggris.

Foto beralih ke rumah Nora Bernacle, istri Joyce di kota Galway. Di rumah tersebut tidak ditemukan banyak surat Nora, melainkan justru banyak surat dari ibunya Nora. Ciri suratnya tak memakai tanda baca. Joyce sendiri lebih suka mengubah teknik menulis. Joyce memperkenalkan surat yang berbasis dari Edgar Allan Poe.

Foto lain berupa tulisan di plang 1 Scala James Joyce, sebuah plang nama rumah yang pernah ditempati Joyce sekeluarga di kota Trieste, Italia. (Catatan penulis: Memang banyak tempat yang pernah dipakai, singgahi oleh sastrawan besar di Eropa sering diberi tanda seperti itu). Menurut sang penulis biografi, di Trieste Joyce banyak menulis fragmen dari berbagai topik, dari Hamlet, surat-surat yang umurnya sudah 100 tahun lewat. Tiap hari Joyce membaca 4 koran sekaligus. Pada tahun 1912, Joyce ujian di universitas untuk menjadi guru dan berhasil lulus dengan memuaskan. Trieste merupakan kota yang telah melahirkan dua karyanya Dubliners dan A Portrait.

Rumah Joyce saat di Roma, juga diperlihatkan, foto masih hitam putih. Bahkan sebuah kafe bernama Antico Caffe Greco, disebutkan sebagai tempat nongkrong Joyce di Roma. Sampai di sini Fritz Senn, guru kami bertanya, “Bagaimana kamu tahu, kalau Joyce pernah ke situ?“ Rademacher jawab, “Setiap penulis biografi Joyce sebut bahwa Joyce pernah ke kafe itu.“

Beralih ke foto Hotel Dela Paix di Paris, ada plang Joyce pernah menginap di hotel itu dan dijelaskan Joyce saat tinggal di situ pernah menulis surat agar bisa masuk ke Zürich, Swiss. Peristiwa itu tahun 1940. Kawan Joyce pernah bertemu Joyce di hotel itu.

Kini foto sebuah nisan di kuburan Zürich. Bagi kawan-kawan di Zürich tentu tidak asing lagi dengan nisan Joyce yang disertai patung Joyce di sebelahnya. Di makam itu lah Ezra Pound pernah menjenguknya.

Ada foto patung hitam, dijelaskan Joyce dalam menulis menggunakan 4 bahasa, Italia, Jerman, Prancis dan Inggris. Awalnya Joyce sebagai penganut Katolik namun berubah menjadi Kristen protestan. Foto lain tentang Joyce di kampus di Dublin. Rademacher bilang, “Saya suka sekali karya Joyce, karena berbeda dengan pengarang lainnya, namun saya lebih suka menemukan sendiri yang bersifat kontemporer. Yang ditulis Joyce bukan semuanya asli.“

Fritz Senn tanya, “Banyak sekali foto-fotonya tentang Joyce, tapi lebih indah foto-foto yang lain?“ Rademacher jawab, “Saya lebih senang membuat jarak dengan Joyce, sehingga bisa menghasilkan karya sendiri, daripada sekadar menerjemahkan.“

Menurut penulis biografi ini, Joyce juga dimanja oleh Richard Ellmann, dianggapnya sebagai anaknya. Joyce menciptakan karya di Dublin, kebanyakan dari John Counter. Kebiasaan Joyce minum terlampau banyak, hingga membuat istrinya khawatir.

Seorang ibu bertanya, “Banyak orang, banyak anekdot tentang Dublin?“ Rademacher jawab, “Joyce itu sulit.“

Pantauanku, jalannya acara ini tampak kaku dan sebagai penulis biografi Joyce, Rademacher saat menjelaskan analisisnya begitu kering bahkan kesanku, pesimis terhadap karya-karya Joyce. Tak lama lagi, Fritz Senn melempar pertanyaan kritis, yang kuduga bisa mewakili semua orang di situ, “Apakah tujuan khususmu atau apakah yang bisa membuat berbeda dari studymu?“ Ia jawab, “Lebih banyak terkait dengan ayah Joyce. Sebuah kolaborasi dengan sang ayah. Joyce membuatnya dalam format fiksi. Analisis saya tentang Joyce terkait bagaimana cara Joyce menulis, pada beberapa bidang, prosesnya. Saya pikir, sebuah gagasan bagus membedakan secara etnografi, berdasar manusia, surat-suratnya banyak yang bersifat pribadi. Joyce menghadapi perempuan dan yang lain dengan cara yang sangat berbeda.

Morris Craig, disebut sebagai arsitek di Dublin, selama dua tahun, ia akui pernah bertemu Joyce ketika masih muda. Joyce juga menulis puisi tentang Belfast. Ketika Joyce pergi ke Paris, ia masih ingat puisinya tentang Belfast itu.

Kesimpulan akhir, Rademacher sebut, “Saya mencoba melihat Joyce dari sudut pandang Joyce yang hidup 2/3 masa hidupnya di daratan benua Eropa. Anda bisa cari pengarang di museum Lubeck, Jerman, tapi bukan untuk Joyce, yang lebih suka fiksi ketimbang skandal baru.

*Jörg W. Rademacher adalah penulis biografi berjudul James Joyce.



*(Sigit Susanto: November 2012)


Ulysses Dibaca Ketiga Kali




Ulysses Dibaca Ketiga Kali
Sigit Susanto*
Sampai sekarang Ulysses kubaca yang ketiga kali dengan durasi waktu selama 5 tahun 7 bulan. Pembacaanku yang pertama tepat selama tiga tahun (28 Maret 2006 – 3 Maret 2009). Pembacaanku kedua selama 2 tahun 7 bulan (24 Maret 2009 – 14 Oktober 2011).
Fritz Senn adalah seorang Joycean sekaligus pimpinan Yayasan James Joyce di kota Zürich, Switzerland. Ia lah yang memandu reading group novel Ulysses pada setiap Selasa dan Finnegans Wake pada setiap Kamis. Kedua novel tersebut dibaca dalam grup selama 1,5 jam sekali dalam seminggu.
Ia akui pembacaan superlelet pada Ulysses yang pertama tepat tiga tahun, karena peserta bisa duduk nyaman di kursi dan meja. Sehingga kemungkinan peserta bisa ngobrol dengan kawan di sebelahnya.
Akan tetapi menginjak pembacaan Ulysses yang kedua, peserta bertambah banyak. Tempat yang nyaman ada kursi dan meja nyaris tidak memuat lagi. Karena peserta melebihi 20-an, maka tempatnya di ruangan sebelah yang hanya tersedia kursi. Fritz Senn bilang, karena tempatnya kurang memadai maka demokrasinya terpangkas, antarpeserta tidak saling bicara, ia sendiri lah yang monopoli bicara.
Detik-detik menjelang baca penutupan Ulysses sungguh mengharukan. Stamina peserta masih sama seperti hari-hari sebelumnya, sekitar belasan jumlahnya. Penutup novel ini dengan kalimat berdesah, he could feel my breasts all perfume yes and his heart was going like mad and yes I said yes I will Yes.
Yes sebagai kata penutup dengan huruf kapital: Y. Yes menurut pak guru Senn, sebagai kata feminin. Memang bab 18 terakhir Ulysses ini berhamburan yes, sebagai monolog interior ibu Molly Bloom.
Ritual khatam Ulysses juga ditandai dengan makan-makan cemilan dan minum-minum di ruangan sebelah. Kawan-kawan urunan suka rela, sebagian dananya disumbangkan dalam amplop ke pak guru Senn, sisanya untuk membeli cemilan dan minuman. Maklum reading group ini gratis dan pihak Yayasan James Joyce sedang didera krisis finansial. Bank Swiss UBS yang awalnya membantu kelangsungan yayasan, kini tidak lagi, karena krisis yang melanda bank tersebut.
Sebagai penanda lain, ditayangkan film Ulysses hitam putih. Jauh sebelumnya sempat aku lontarkan pertanyaan ke kiai Senn ini, sekiranya aku bisa nonton filmnya? Ia sarankan, jangan lah nonton filmnya, khatamkan dulu, kalau tidak ingin kecewa. Dan tanpa diminta pun begitu khatam, kami semua diperlihatkan filmnya di layar lebar. Menurut Senn, versi baru ada juga, lebih realis, kalau film ini dibuat tahun 1960 di Dublin, saat itu dirinya ikut membantu di Dublin. Kata Senn, film ini lebih abstrak dan mirip dengan teks yang sesungguhnya.
Jika aku ditanya, setelah dua kali khatam Ulysses dan akan baca yang ketiga kali, maka apa yang aku dapatkan? Maka jawabku, lebih percaya diri dan berani jika hendak menulis prosa. Terutama setelah menjelajahi kerumitan teks Joyce. Intensitas teks yang kompleks menjadi kekhasan karya klasik modern. Tidak mungkin aku hafal semua tokoh dalam Ulysses, namun nama tokoh-tokoh penting yang sering muncul sudah mulai aku kenal. Teknik Joyce mederetkan konsonan, vokal, susupan kata asing dari berbagai bahasa, menyisakan kesan harmonis. Tak kalah pentingnya, kelucuan di balik frase unik dan data ensiklopedis maupun dari media dan buku.
Yang paling kusukai, monolog interior radikal tanpa titik koma puluhan halaman. Adapun kelemahan membaca Ulysses, semakin tak bersemangat membaca karya penulis lain. Kecuali karya Franz Kafka yang juga menjadi idolaku.
Yang kuanggap baru lagi menurutku, ternyata roman biografi kisah pacaran Joyce dan Nora ini, sosok Joyce menyublin ke dalam dua tokoh utama pada Ulysses. Stephen Dedalus sebagai guru yang cerdas dan intelek dan Leopold Bloom sebagai pekerja koran berisi iklan yang sabar dan sopan. Sifat Joyce dan kecerdikan Joyce berhamburan pada dua tokoh itu.
Selasa, 8 November 2011, pukul 17.30 hingga 19.00 awal baca Ulysses yang ketiga. Saat aku hadir ternyata sudah ada antrean yang didaftar dengan kertas. Rupanya koran nasional Swiss, Tages Anzeiger pada 4 November 2011 mewartakan putaran baru rencana reading group Ulysses. Judul koran tersebut cukup memikat, James Joyce untuk para Amatir dan Humoris, Pada Selasa dimulai sebuah putaran reading group baru pada Yayasan James Joyce. Pengembara baca ini bisa sampai tiga tahun. (James Joyce für Amateure und Humoristen, Am Dienstag beginnt eine neue Ulysses Lesegruppe in der James Joyce-Stiftung. Das Leseabenteuer kann bis zu drei Jahre dauern). Dijelaskan, Fritz Senn sudah lebih dari 50 tahun berkutat dengan novelis Irlandia, James Joyce. Pertama kali tahun 1982 ia menemukan kelompok kecil mahasiswa membaca Ulysses bersama-sama. Sejak peristiwa itulah, ia tekuni baca dari halaman ke halaman. Joyce tidak memasukan unsur yang berbau akademis. Sebab tujuan reading group ini untuk menemukan kelucuannya dalam Ulysses. Ulysses berperan dalam Odyssey karya Homer. Tokoh utama Leopold Bloom pada Ulysses, berseberangan dengan mitos kepahlawanan pada Odyssey. Leopold Bloom digambarkan sebagai lelaki yang sangat sopan, penuh kemanusiaan, dimana pembaca bisa pula menikmati suasana sehari-hari. Pembaca akan diajak menyusuri koran Dublin melalui kebingungan dan kesalahannya pada waktu itu 16 Juni 1904. Selain akan menemukan 8 kalimat panjang sebagai rekor karena tanpa titik dan koma. Pembaca akan ikut hanyut dalam arus ketidaksadaran Molly bermonolog. Fritz Senn mewanti-wanti bahaya membaca novel ini akan kecanduan. Sudah banyak korban berulang-ulang, sejak 20 tahun lalu reading group ini dimulai.
Suasana ini bukan baru untukku, sebab tiga tahun silam ketika mulai baca Ulysses juga begini. Tapi kuakui, kali ini sekitar 30-an orang datang. Bahkan ada dua kawan lama yang mendaftari dan menanyakan, sekiranya ada yang masih waiting list?
Kutatap sekeliling, ada nenek tua beruban semua bilang, syukur aku hadir. Nenek asal Hongaria itu memang kawan lama. Segera kutahu, ternyata kawan-kawanku angkatan tiga tahun silam yang belasan jumlahnya, hanya kulihat 3-4 orang. Selebihnya semua peserta baru. Kawan-kawan lama kudengar banyak yang pindah ke reading group Finnegans Wake. Yah, aku tetap akan setia mengulangi Ulysses lagi. Bagaimana tidak, untuk khatamkan Finnegans Wake butuh waktu 12 tahun. Finnegans Wake yang terdiri atas 628 halaman ini diakhiri dengan kata the dan dibuka dengan kata, riverrum. Luar biasa seolah Joyce sengaja tak akan menutup ceritanya, melainkan kalimatnya gandeng-bergandengan dengan perekat kata the riverrum.
Aku pernah ikut sekali reading group novel mahasulit ini, selama 1,5 jam baru bisa membaca 38 baris saja, kurang dari 1,5 halaman. Pantas Susan Sontag berujar, Finnegans Wake merupakan salah satu novel dunia yang sulit diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Kalau waktu 12 tahun itu aku pakai khatamkan Ulysses, aku bisa khatam 4 kali.
Di ruangan aku duduk paling depan, tanpa meja dengan lampu tidak begitu terang. Jendela sedikit menganga, namun tak lama lagi ditutup, mengingat angin dingin menyelinap ke dalam.
Guru Senn berkemeja hijau kekuningan lengan panjang mulai angkat bicara. Kita akan membaca Ulysses very slow. Apakah ada yang sudah pernah membaca Ulysses? Dari seluruh peserta itu hanya 3 orang yang mengaku sudah khatam, sisanya menyerah di tengah jalan. Adakah native speaker? Tiga perempuan mengacungkan jari, mereka dari Inggris, Kanada dan Irlandia.
Kata Senn lebih jauh, Novel ini sangat terkenal dan membuat orang takut, meskipun banyak nuansa lucu. Tantangan bagi intelektual. Untuk menyelesaikan pembacaan ini perlu waktu tiga tahun, tapi Joyce juga memerlukan waktu lama sekali menulisnya. Sebagian besar Ulysses ini ditulis di Universitätstrasse, Zürich. Sejauh ini ada pertanyaan? Seorang bertanya, apakah bisa membeli Ulysses dari penerbit manapun? Senn menasihati untuk membeli Ulysses versi editing dari Hans Gabler, orang Jerman. Versi Gabler inilah yang paling mendekati sempurna.
Seorang lelaki bertanya, apa manfaatnya membaca Ulysses? Senn menggambarkan, Ulysses ini seperti rokok, pembaca akan kecanduan. Tapi kecanduan yang baik. Ia paparkan, apa yang harus dilakukan. Pertama, peserta akan mendengarkan CD beberapa paragraf yang dibaca dengan aksen Irlandia asli. Kemudian Senn membaca ulang dari awal kata per kata.
Teks halaman pertama dimulai dengan kalimat:
*Stately, plump Buck Mulligan came from the sairhead, bearing a bowl of lather on which a mirror and a razor lay crossed. A yellow dressinggown, ungirdled, was sustained gently behind him on the mild morning air. He held the bowl aloft and intoned:
-Introibo ad altare dei.
……
……
Senn menjelaskan, banyak ajektif yang aneh dipakai Joyce, seperti: Stately, plump. Bahasa Latin Introibo ad altare dei artinya aku akan memasuki ke alam Tuhan. Frase ini sering dipakai pendeta untuk berkotbah di gereja.
-Come up, Kinch! Come up, you fearful jesuit!
Ucapan Buck Mulligan ini mengejek Stephen Dedalus dan tidak menghormati.
Kata-kata sulit yang mendapat penjelasan dari Senn.
-Back to barracks! He said sternly
Sebuah komando dalam militer. Menyindir tentara Inggris yang menjajah Irlandia dulu.
-bear: old fashion
-aloft: ceremony
-intoned: melodi
-genuine Christian: new christ, body and soul and blood
-Chrysostomos: mulut emas, golden speech dalam bahasa Yunani, antara realistik dan spekulasi.
-white corpscles: darah
-Ulysses: ruh Yunani antik.
-Mallachi Mulligan sama dengan Buck Mulligan.
-Tell me!: sering dipakai Homer dalam Odyssey.
-God, isn`t dreadful?: umpatan orang Inggris saat menjajah Irlandia.
-O, my name for you is the best: Kinch, the knifeblade (sebutan untuk Buck Mulligan)
-O, woful lunatic!: Joyce membuat dialog tanpa memakai tanda tanya (?).
-The snot green: it is not green, victorian/english grammar.
-Great smelt mother: mythological.
-Epi oinopa ponton: bahasa Yunani, ponton: laut
-Thalatta! Thalatta: suara laut dalam Odyssey. Juga simbol akan sampai ke rumah. Joyce mencoba dengan perspektif yang beda.
-Kingstown: bagian kota kecil di Dublin.
-Our mighty mother!: sangat puitis, ungkapan sering dipakai penyair Irlandia.
-Mother: ingat kepada ibu Stephen. Kematiannya seperti kematiannya ibu Joyce.
-Hyperborean: tidak perlu diurus, berasal dari Nietzsche.
-A lovely mummur! He murmured to himself: Dari Julius Caesar-Shakespeare.
-Odour: aroma
-Rotting liver: organ tubuh, tak hanya selalu romantis.
-Secondleg: secondhand.
-Doftyville: nama sindiran pada sebuah ladang pertanian di barat laut Dublin.
-Hair on end: Senn mengakui tidak tahu maksudnya. Joyce memakai eksterior dan interior monolog. Teknik ini bisa dicoba dengan bicara di depan kaca.
-I pinched it out of the skivvy`s room: di belakang banyak pembantu.
-Lead him not into temptation: dari Oscar Wilde.
-Seeing his face in the mirror: Oscar Wilde sebut, kaca punya ciri alami.
Sampai kalimat: The craked lookingglass of a servant, pembacan dihentikan. Selama 1,5 jam kami hanya membaca 4 halaman.
0O0
diposkan 7 Januari 2012

Surat Perjanjian Kontrak ULYSSES: James Joyce-Sylvia Beach



Surat Perjanjian Kontrak James Joyce dan Sylvia Beach 

Pada Penerbitan 
Novel ULYSSES




KP 75465
MEMORANDUM OF AGREEMENT made this nineth day of December, 1930 BETWEEN James Joyce, Esquire, c/o Shakespeare & Co., 12 Rue de l`Odéon, Paris (Hereinafter called the Author) of the one part and Miss Sylvia beach, Shakespeare and Company, 12 Rue de l`Odéon, Paris (Hereinafter called the Publisher) of the other part, whereby it is agreed by and between the parties as follows:
THE AUTHOR HEREBY AGREES:
  1. To assign to the Publisher the exclusive right of printing and selling throughout the world, the work entitled ULYSSES.
THE PUBLISHER HEREBY AGREES:
  1. To print and publish at her own risk and expense the said Work.
  2. To pay the Author on all copies sold a royalty on the published price of twenty-five per cent.
  3. To abandon the right to said Work if, after due consideration such a step should be deemed advisable by the Author and the Publisher in the interests of the AUTHOR, in which case, the right to publish said Work shall be purchased from the Publisher at the price set by herself, to be paid by the Publishers acquiring the right to publish said Work.

JAMES JOYCE
SYLVIA BEACH

*Sumber:
Buku Sylvia Beach: Shakespeare and Company

diposkan 7 Februari 2011

Richard Ellmann : James Joyce



Richard Ellmann: James Joyce
Judul: James Joyce

Penulis: Richard Ellmann
Penerbit: Suhrkamp, 1979
Tebal:jilid 1:597 hal, jilid 2:1301 hal.

Richard Ellmann adalah penulis biografi James Joyce yang paling tersohor. Biografi Joyce ini ditulis ke dalam dua jilid, dan kini telah menjadi karya klasik. Secara umum ditulis, bahwa Joyce meninggalkan Dublin menuju ke Paris akhir tahun 1902. Sedianya ia hendak belajar kedokteran, namun malah hidup bergaya bohemian. Ia baru beberapa bulan atau awal tahun 1903 di Paris, ibunya meninggal. Joyce merasa terpukul sekali. Kondisinya tidak stabil, sehingga terpaksa ia yang kritis terhadap agama Katolik, akhirnya berbalik arah dan berdoa di gereja.
Berkat bantuan kawan-kawannya, ia dipinjami uang untuk pulang ke Dublin. Setahun kemudian, tepatnya pada 10 Juni 1904, Jim (panggilan pendek Joyce) berpapasan dengan seorang gadis jangkung nan anggun di Nassau Street, Dublin. Gadis asal Galway itu bernama Nora Bernacle. Ia bekerja sebagai room-girl di hotel Finn. Keduanya bersepakat membuat kencan perdana pada 16 Juni 1904. Dari kencan pertama itu berlanjut kencan secara teratur berikutnya. Saat itu Joyce mengucapkan kalimat yang terkenal kepada Nora, “Kamu telah membombongku menjadi laki-laki.“
Belakangan pertemuan dua sejoli di Nassau Street itu diangkat oleh Joyce dalam sebuah biografi novel berjudul Ulysses. Dan tanggal 16 Juni 1904 itu menjadi tanggal sakral dan diperingati oleh penggemar Ulysses seluruh dunia dengan perayaan yang disebut Bloomsday.
Beberapa bulan kemudian, sejak pertemuan Joyce dan Nora, tepatnya pada Oktober 1904, mereka nekad hijrah ke daratan Eropa lain. Deret kota yang mereka tempati adalah: Zürich, Pola, Roma, Trieste, Zürich, Paris, Zürich. Saat itu mereka berangkat dari Dublin menggunakan kapal laut.
Kedatangan Joyce dan Nora pertama di Zürich, Switzerland bernasib sial. Surat panggilan kerja yang sedianya Joyce hendak menjadi guru bahasa Inggris di Berlitz School, ternyata tidak ada lowongan. Terpaksa Joyce dioper ke Trieste, Italia.
Di Trieste ini Joyce berteman akrab dengan seorang Yahudi asal Hongaria bernama Teodoro Mayer. Mayer ini memimpin sebuah koran berbahasa Italia bernama “Il Piccolo dela Sera.“ Selain Mayer sebagai pimpinan koran lokal, ia juga pimpinan gerakan nasionalis Italia.
Joyce sendiri selama di Dublin tidak punya kawan Yahudi, seperti saat ia di Trieste ini.
Berkat perkawanannya dengan Mayer itu, ia angkat sebagai tokoh protagonis dalam Ulysses bernama Leopold Bloom. Sedang istrinya bernama Marion (Molly) Bloom.
Pasangan Jim dan Nora ini akhirnya dikarunia dua anak: Giorgia (lelaki) dan Lucia (Perempuan).
Tahun 1915 pecah Perang Dunia I. Joyce menghindari Perang Dunia I di Italia dan pergi ke Zürich, Switzerland. Negeri Switzerland dikenal sebagai negeri netral. Selama di Trieste Joyce sudah mulai berkenalan dengan Ezra Pound, lewat sahabatnya T.S. Eliot.
Tercatat selama keluarga Joyce tinggal di Zürich telah pindah apartemen sejumlah 7 kali. Yang menarik, salah satu apartemennya di pinggir jalan raya, yang berlamat di Universitätstrasse 38, dekat dengan halte trem. Dan karena sebagian besar karya Ulysses dikerjakan di Zürich, tak heran jika halte trem itu diberi nama halte Ulysses. Sayangnya, akibat perubahan tata kota baru, maka nama halte Ulysses telah diganti dengan nama halte lain.
Pada tahun 1920 Pound menyarankan Joyce agar meninggalkan Trieste dan pergi ke Paris. Di Paris, ia akan dikenalkan kawan-kawan Pound, yang berkecimpung di dunia sastra. Joyce mengikuti saran Pound dan bersama keluarganya hijrah ke Paris. Di Paris Joyce cepat punya kenalan para penulis setempat. Dua penulis yang dari senegaranya, yakni Irlandia, yaitu Arthur Power dan Samuel Beckett. Mengingat anak perempuan Joyce, Lucia sudah menginjak dewasa, Beckett sempat ke mana-mana dengan Lucia. Ada isu bahwa Beckett pacaran dengan anak Joyce. Pertemanannya yang erat itu segera putus, mengetahui Lucia ternyata punya penyakit kelainan jiwa.
Joyce akhirnya berkenalan dengan Sylvia Beach. Seorang perempuan lesbian asal Amerika pemilik toko buku Shakespeare & Co. Sebuah toko buku legendaris yang kini masih berdiri di daerah Quartin Latin, tepatnya berhadap-hadapan dengan katedral Notre-Dame..
Berkat uluran tangan Sylvia Beach ini naskah Ulysses yang dikerjakan selama 8 tahun, berhasil diterbitkan. Cetakan pertama sejumlah 1000 eksemplar dalam format kertas mewah. Padahal toko buku tersebut belum pernah menerbitkan buku. Tepat pada 2 Februari 1922, di ulang tahun Joyce yang ke 40, Joyce bisa memegang Ulysses dalam bentuk buku. Hampir tiap hari Joyce mendatangi toko buku itu dan ikut membantu membungkus untuk dikirim ke langganan-langganan shakespeare & Co.
Padahal sebelumnya beberapa bagian Ulysses telah dimuat The Little Review di Amerika tahun 1918 dan menuai skandal. Ulysses dianggap berbau pornografi dan dicekal oleh pengadilan. Berbuntut beberapa penerbit menolak menerbitkannya.
Ketika berada di Paris Joyce matanya sakit dan perlu dioperasi. Ada sahabatnya menyarankan Joyce kembali ke Zürich, ada dokter specialis mata yang handal. Hidup di Paris tak selamanya, mulus, sebab tahun 1940 pasukan Hitler masuk Paris. Sylvia Beach ditangkap dan dijebloskan ke penjara beberapa bulan. Joyce seperti dikepung Perang. Saat dia di Italia meletus Perang Dunia I dan saat di Paris pecah Perang Dunia II.
Joyce dan keluarganya, lagi-lagi kembali ke pangkalan pertamanya, yakni di Zürich dan kali ini untuk selamanya. Pada 13 Januari 1944, Joyce meninggal dunia dan dimakamkan di Fluenten, Zürich, Switzerland.
Nora hidup sendirian dan ia kesulitan ekonomi, sehingga beberapa barang warisan Joyce termasuk naskahnya ada yang dijual. Nora dan Lucia meninggal dan tinggal Giorgio. Giorgio punya anak lelaki bernama Stephen, sebagai cucu Joyce. Dialah satu-satunya yang masih hidup hingga kini, 2011 dari garis keluarga Joyce. Ia lah satu-satunya pemegang hak royalti seluruh karya Joyce. Sosoknya kini sudah sepertii kakek dan menetap di sebuah pulau di Perancis dekat Inggris.
0O0
diposkan 12 Januari 2011

Membaca Ulang Ulysses



.setelah dua minggu lalu khatam Ulysses selama tiga tahun (28 Maret 2006 – 3 Maret 2009), kemudian klab baca Ulysses diliburkan selama dua minggu. Selasa lalu, 24 Maret 2009, pembacaan Ulysses dimulai dari halaman paling depan lagi. Selasa sore itu aku agak kaget, sebab di Yayasan Joyce tampak banyak orang. Saat bertemu Pak Kyai Senn, (julukanku sendiri untuk sang guru) aku tanya, “Ada baca Ulysses hari ini, kan?“ Dengan yakin, dia jawab, “Ya..ya, seperti biasa. Tapi duduknya di kursi yang bertanda reserve warna hijau.“
Tampak wajah-wajah baru kutatap di ruang sebelah. Sedang ruangan yang biasa untuk mengajiUlysses kosong, hanya meja putih sendiri, sementara kursi-kursinya sudah sirna. Setelah aku duduk di bangku belakang, seorang kawan baca asal Berlin bilang, “Ya di sini lah nanti pembukaan baca Ulysses. Soalnya event baca mulai dari awal disiarkan di koran.“ Dalam benakku terus merongrong rasa penasaran, masak sih….akan baca novel saja harus diumumkan ke koran? Pantas saja banyak orang datang. Kutafsir hadirin sore itu sekitar 25 orang. Tak kulihat ada anak muda satu pun. Semua tua, kakek atau nenek. Ditambahkan oleh Pak Senn, “Tradisi mengaji Ulysses ini dimulai sejak November 1992, satu novel butuh waktu tiga tahun untuk menamatkannya. Dan sampai kini non-stop, I don`t know why….? Kelakar ini memanen tawa dari hadirin.
Pak Kyai berdalih, “Tujuan kami membaca Ulysses untuk mencoba memahami isinya. Jika kalian mengerti, just keep it for your self.”
Tepat pukul 17.30, lonceng gereja bertalu, Pak Kyai Senn, menjelaskan lagi….
Kemarin aku diinterview oleh wartawan koran Tages Anzeiger. Eh…ternyata efeknya sekarang banyak yang hadir pada pembukaan bacaan Ulysses ini. Malah ada orang menelepon, kenapa tidak cari tempat yang lebih besar saja?“
Pak Kyai berambut pirang gondrong itu melucu dan disambut dengan tawa hadirin di ruangan sedikit redup itu. Kawanku di sebelah membisiki, “Paling-paling mereka itu tidak sampai ikut menekuni bacaan Ulysses hingga tamat.“ Aku mengamini, memang biasanya begitu, panas-panas tahi ayam berlaku pula. Sepintas aku melirik ke wajah-wajah baru di situ, mereka memangku novel Ulysses dari rumah. Ada yang baru beli, ada pula yang sudah kumal.
Terus terang ini pengalamanku pertama membaca Ulysses dari depan sekali di halaman pertama.Sebab 3 tahun lalu aku mulai ikut sudah di bab 18 (Penelope). Bab-bab yang sedang bermonolog-interior.
Kembali Pak Kyai Senn berbicara. Dia tunjukkan sebuah Ulysses warna hijau terang. Kata dia, “Ulysses ini terbitan pertama tahun 1922 oleh toko buku Shakespeare Company di Paris. Dan saat itu hanya dicetak terbatas sejumlah 1000 eksemplar. Kini buku yang 1000 itu sulit dicari dan harganya mahal.” Pada waktu yang bersamaan, fotokopian satu halaman bolak-balik tentang rencana membaca di halaman awal dibagikan. Pak Kyai melucu lagi, “Banyak orang hanya pura-pura baca novel ini dengan membawa ke sana kemari, biar dianggap intelek.” Lagi-lagi guyonan Pak Kyai menyulut tawa.
Seperti biasa, Pak Kyai Senn memberi ilustrasi singkat tentang teks-teks yang akan dijelajahi.Dia bilang, ”Di bab I (Telemachus) ini suasananya ada di Martello Tower, pantai Sandycove, Dublin. Ada tiga orang tinggal di menara itu, Heide, mahasiswa Inggris dari Oxford, Buch Mulligan, mahasiswa kedokteran dan Stephen Dedalus, seorang guru yang niveau intelektualnya tinggi. Setelah pengantar pendek dilontarkan, kini giliran mendengarkan CD.
Kalimat awalnya:
*Stately, plump Buck Mulligan came from the stairhead, bearing a bowl of lather on which a mirror and a razor lay crossed…..
Sampai satu paragraf berhenti dan dari kata ke kata dijelaskan ulang. Jika Pak Kyai ragu terhadap satu kata, dia menawarkan hadirin untuk menginterpretasikannya. Namun pada umumnya Pak Kyai paham. Maklum dunia Joyce sudah dia tekuni sejak tahun 1970-an. Nyaris sampai kini dia hanya ngutek-utek karya Joyce selama 39 tahun. Boleh dibilang separuh masa hidupnya diabdikan untuk karya sastra dan khusus karya Joyce, tidak lain dari itu. Kadang aku merasa kasihan, tangan kanannya sudah mulai buyutan. Maklumlah dia sudah berusia 80-an tahun.
Pada kalimat pembuka Ulysses di atas, Pak Kyai menerangkan, kalau ada dua adjektiva berurutan, sedang stairhead juga bisa dimaksudkan head of stair. Pada kalimat ketiga sudah ketabrak ungkapan bahasa Latin:
Introibo ad altare Dei
Menurut Annotated Ulysses karangan Don Gifford, itu ungkapan dari bahasa Latin yang artinya, “I will go up to the God`s altar.” Ungkapan ini sering dipakai pendeta di gereja.
Kalimat berikutnya,
–Come up, Kinch! Come up, you fearful Jesuit!
Kinch dari sumber lain kutemukan, artinya pisau. Kinch adalah julukan untuk Stephen Dedalus. Karena Stephen otaknya cemerlang, diibaratkan dengan pisau.
Bertemu lagi dengan nama Chrysostomos. Seorang ahli retorik Yunani kuno.
Ada pembuka kalimat lagi:
–Back to Barracks!
Dijelaskan, setting novel ini tahun 1904, dimana Irlandia masih dalam koloni Inggris. Back to Barrack sebuah sindiran terhadap Inggris raya, di tempat setting novel itu tidak ada barak militer.
Pada kalimat selanjutnya:
–Tell me, Mulligan, Stephen said quietly.
Dijelaskan oleh Pak Senn, bahwa model pembuka “Tell me, …itu khas bentuk Odyssey yang dipakai oleh Homer.
Pada kalimat selanjutnya, bertemu kata black panther, dan diterangkan, patung black panther itu kini tersimpan di Martello Tower yang dijadikan Museum James Joyce di Sandycove, Dublin.
Mulligan juga dijuluki dengan nama depan Malachi Mulligan. Malachi adalah the name of the last book of the Christian Bible`s Old Testament. Bisa pula Malachi  berarti nabi dalam agama Yahudi.
Ada lagi kata Kingstown, Pak Senn memberitahu, bahwa kota itu ada di selatan Dublin.
Yang paling kuanggap seru, saat ada ungkapan: Thalatta! Thalatta!
Pak Kyai menjelaskan, “Thalatta, Thalatta itu suara gemuruh laut, saat Odysseus kembali ke Ithaka. Pada bahasa Yunani terdapat berbagai perbedaan dialek mengucapkan Thalatta, Thalatta. Lalu Pak Kyai membagi pengalamannya, ketika dirinya ke Yunani diberitahu, jika orang Yunani hendak dianggap intelek, cukup bilang, `Thalatta, Thalatta.” Gurauan ini mencairkan suasana yang semakin bertegangan tinggi.
Ketika menemukan kalimat: I`am hyberborean as much as you. Pak Senn menambahkan, bahwa ungkapan itu berasal dari Zarathustra-nya Nietzsche, superman-übermensch.



Sebelum acara berakhir, ada seorang ibu gemuk terbatuk-batuk dan undur diri sebentar. Juga sebuah telepon genggam berdering, akhirnya pemilik telepon itu lari keluar terbirit-birit sedikit malu. Sebelum novel Ulysses aku tutup, aku coba hitung berapa halaman sih selama 1,5 jam membaca tadi? Dari pukul 17.30 sampai 19.00 itu hanya bisa membaca selama 3 halaman lebih satu paragraf kecil.
Hemmm,…..hitung-hitung, pintu dari awal Ulysses sudah terbuka menganga. Kalau tiga tahun lalu aku memulai dari ekor, kini dari kepala. Tinggal bagaimana lagi mengatami yang kedua kali. Pak Kyai berpesan, please don`t  forget to write something nice on the guest-book.
Tepuk tangan lirih menutup acara itu. Sebelum mengambil jaket di gantungan, aku bubuhkan kesan dalam buku tamu dalam tulisan bahasa Indonesia: Awal Membaca Ulysses, Terima Kasih., 3/3-2009.
-0O0-
diposkan 29 Oktober 2010