where people ngobrol joyce...

BAHNHOFSTRASSE The eyes that mock me sign the way Whereto I pass at eve of day. Grey way whose violet signals are The trysting and the twining star. Ah star of evil! star of pain! Highhearted youth comes not again Nor old heart`s wisdom yet to know The signs that mock me as I go. (james joyce)

Senin, 03 Desember 2012

Ulysses Dibaca Selama Tiga Tahun



Blessing in Disguise
“Blessing in disguise,“ kata orang Inggris, atau “Glück im Unglück,“ kata orang Jerman, dan kata orang kita, “Kemalangan Membawa Nikmat.“
Selasa, 28 Maret 2006 itu aku sepulang kerja langsung naik kereta api ke kota Zürich. Sesampai di stasiun kereta api Zürich, aku bertanya pada pegawai informasi letak gedung Strauhofs nomor 9. Setelah mendapat pencerahan, dengan langkah gontai, karena hujan turun rintik-rintik mengawali musim semi ini, tibalah aku di antara himpitan pertokoan. Di tangan tergenggam kertas putih alamat yang aku tuju serta peta kota pemberian petugas informasi. Jalan bebatuan aku susuri hingga sampai di depan gedung kuno bertuliskan Strauhofs. Aku segera paham, bila pintu masuknya tertutup, sebab udara di luar masih dingin. Ketika aku menemui petugas perempuan di loket, dia bertanya, apakah aku akan melihat pameran? Segera aku jawab, ya pameran dari Bertolt Brecht. Ibu di depanku matanya membulat, lalu ingin membaca informasi di kertas putih yang aku dapatkan dari internet. Telunjuknya mengacung ke tulisan di kertas yang aku pegang bertahun 2004. Astaga! Sekujur tubuh seperti tergelincir ke jurang terjal. Jauh-jauh aku datangi, ternyata pameran karya-karya Bertolt Brecht itu sudah diadakan dua tahun silam. Ketidaktelitianku, karena yang aku perhatikan hanya jadwal jam dan hari pameran, tapi bukan tahunnya.
Yayasan James Joyce
Kepalaku berkeliling, seperti membuang rasa malu. Wajahku tertatap sebuah poster besar di belakang ibu tadi. Satu-persatu wajah-wajah di poster itu aku teliti dari atas ke bawah, kadang dari samping kanan ke kiri. Aku menemukan dua wajah yang tidak asing lagi, yakni Rainer Maria Rilke dan Friedrich Nietzsche. “Bisa membeli posternya?“ tanyaku kemudian sembari mengubur rasa malu. Ibu itu mengangguk sembari berucap, “Tapi Anda bisa melihat sebentar ke pameran James Joyce di lantai dua.“ Aku gantian mengangguk pelan, tanda ragu. Di benakku sudah berniat akan melihat dari dekat karya-karya serta kehidupan penyair Brecht, justru bertemu Joyce. Sehabis membayar kedua poster, aku diantar oleh petugas lain naik tangga kayu. Di pintu masuk terhalang seutas tali sebesar lengan bayi, lalu dibuka dan masuklah aku. Pada lantai dua, ada dua orang tua. Perempuan dan laki-laki memapakku. Laki-laki tua itu rambutnya gondrong dan putih semua. “Aku baca, kalau Joyce dulu tinggal di Zürich hingga akhir hayatnya. Apa gedung ini ditempati Joyce?“ tanyaku mengawali. Laki-laki yang belakangan aku ketahui bernama Fritz Senn itu dengan ramah memberitahu, “Bukan, ini hanya kantor Yayasan Joyce di kota Zürich (Zürcher James Joyce Stiftung). Joyce tinggal di tempat lain, tapi tak jauh dari sini.“ Aku manggut-manggut, lalu melangkah masuk ke ruang samping kiri yang bertuliskan, “Stephen James Joyces, Les joycienst je les me prise.“ Di dalam ruang itu terdapat meja panjang warna putih dengan dikelilingi kursi warna hitam. Sedang dinding ruangan itu separuhnya dipenuhi rak buku yang berisi buku-buku karya Joyce atau karya orang lain tentang Joyce. Pada sudut ruang, tepatnya dekat dengan pintu masuk, ada rak yang berisi karya Joyce dari berbagai bahasa. “Sudahkah Ulysses diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia?“ tanya Pak Senn pada ku, begitu dia mengetahui aku berasal dari Indonesia. “Setahuku, belum ada,“ jawabku. “Terjemahkanlah ke dalam bahasa Indonesia,“ pintanya sambil tertawa. Iseng-iseng aku tanya, “Sudah berapa bahasa karya Ulysses diterjemahkan?“ Dia jawab, sekitar 40 bahasa. “Ini lihat,“ jari telunjuk Pak Senn mengarah ke deretan rak buku, “ada bahasa Korea, Cina, dan Jepang.“ Aku ambil buku yang berbahasa Jepang. Aku lihat abjadnya seperti baris-baris puisi, dari atas ke bawah. Kemudian aku ambil buku dengan kertas kasar dan kuno berbahasa Arab. Dari halaman awal hingga akhir berbahasa Arab semua, sehingga aku kesulitan walau hanya sekadar ingin tahu, tahun penerbitannya. Beberapa saat lagi, kakiku melangkah ke ruangan di sebelah kiri. Di situ terdapat sekitar 6 album besar warna cokelat. Aku buka album tersebut, ternyata kunjungan berbagai orang, mungkin mereka adalah para pengagum Joyce. Pada ujung rak, aku temukan deretan buku berukuran besar. Ada dua buah buku tingginya hampir setengah meter. Adapun ketebalannya, aku ukur dengan jari telunjuk, satu setengahnya. Salah satu buku besar tersebut berjudul “Finnegans Wehg“ (Judul aslinya, Finnegan`s Wake) tertulis Dieter H. Stimdel.
Setelah itu Pak Senn mendatangi ku untuk diajak masuk ke ruang kerjanya yang juga berisi banyak buku tentang Joyce. “Lihatlah di dalam lemari kaca itu. Itu buku Ulysses cetakan pertama,“ katanya bangga. Aku mendekat lemari dan perhatikan, bukunya tebal dan besar dengan sampul warna hijau dilapisi plastik. “Bukankah yang menerbitkan novel Ulysses pertama kali adalah Silvia Beach, pemilik toko buku Shakespreare and Co di Paris?“ tanyaku. “Benar,“ jawab Pak Senn singkat. “Aku sudah empat kali mengujungi toko buku Shakespeare and Co di Paris,“ kataku. Pak Senn matanya mulai berbinar, seperti menemukan jalur yang lama hilang. “Tapi sekarang toko itu sudah dikelola oleh orang lain dan tempatnya bukan yang dulu,“ seruduknya. “George Withman yang mengambil alih usaha Silvia Beach,“ jawabku, “tapi aku menikmati di toko buku itu. Sebuah toko buku yang menyediakan fasilitas perpustakaan. Layak diacungi jempol, karena usahanya pun tidak melulu untuk dagang, tapi untuk kemanusiaan. Uniknya di toko buku itu, setiap buku yang dibeli, selalu dikasih cap nama tokonya. Maklum toko buku yang legendaris.“
Pak Senn bergegas duduk di kursi dekat meja kerjanya, tapi aku masih rewel ingin mengganggunya, “Aku pernah baca, kalau Ulysses juga pernah dibajak penerbit lain. Berapa eksemplar cetakan pertamanya?“ “Benar itu, dan cetakan pertamanya ada 1000 eksemplar,“ jawab Pak Senn. “Wao itu jumlah yang sudah banyak untuk saat itu,“ kataku sambil terus menyelidik barang-barang di dalam lemari, “apakah tiga tongkat kayu itu dulu digunakan oleh Joyce?“ Pak Senn bangkit dan mendekat lemari sembari menunjuk, “dua di antaranya memang dipakai Joyce. Yang lainnya tidak. Nah di atas lemari, Anda lihat, itu koper Joyce.“ Aku berdecak kagum, sejauh itu barang-barang Joyce bisa dikoleksi. Di rak buku juga ada beberapa gelas untuk minuman anggur yang bertuliskan Joyce. Bahkan ada pula kaus oblong dengan motif wajah Joyce memakai tongkat dan kaca mata bundar mirip kaca mata Mahatma Gandhi. Pak Senn melirik kekaguman ku, dia tambahkan, “Yayasan Joyce ini punya koleksi tentang buku Joyce yang terbesar di Eropa.“ Aku sedikit kaget, langsung menawarkan tanya, “Apakah Anda ada hubungan keluarga dengan Joyce. Kenapa Anda tertarik Joyce. Tertarikkah Anda pada sastrawan lain?“ Berondongan pertanyaanku dia jawab dengan sabar dan pelan, “Aku bukan keluarga Joyce. Aku hanyalah pengagum Joyce. Lalu buku-buku koleksiku, aku sumbangkan untuk membentuk Yayasan Joyce. Dan aku tidak mengenal banyak sastrawan lain selain Joyce. Nanti sore selama 1,5 jam dari pukul 17.30 sampai pukul 19.00 ada acara membaca Ulysses bersama-sama dengan banyak orang di ruang sebelah. Kalau Anda minat, ikutlah.“
Kini giliran aku temukan informasi terbaru yang memikat. Aku segera memandang jam tangan. Terlihat saat itu sedang pukul 14.30, berarti aku masih harus menunggu tiga jam lagi. Lalu apa yang harus aku lakukan? Apakah aku akan jalan-jalan ke luar gedung dulu? Aku putuskan segera, untuk berbincang-bincang dengan Pak Senn menguras isi otaknya tentang Joyce, sekaligus melihat-lihat koleksinya. “Baiklah, aku akan ikut melihat, bagaimana suasananya cara membaca Ulysses bersama itu,“ sambutku bergelora.
Pak Senn tiba-tiba ke luar ruangan sebentar dan masuk lagi membawa beberapa poster wajah Joyce dalam bentuk patung abstrak. Dia menawari aku, suruh mengambilnya, di samping gratis. Aku gulung 5 poster Joyce. Hitung-hitung aku hendak mudik, tentu sebuah oleh-oleh yang bagus untuk kawan-kawan pencinta sastra di tanah air. Rupanya Pak Senn sosok penikmat sastra yang ramah. Dia selalu melayani setiap pertanyaan usilku.
Fritz Senn: Joycean
Kali ini aku cecar dengan pertanyaan sekitar keluarga Joyce, “Anda tahu apakah Joyce punya keluarga yang ditinggalkan?“ “Joyce punya anak dua, laki-laki dan perempuan. Yang perempuan agak sakit jiwa dan pindah dari Swiss ke Inggris. Sedang anak laki-lakinya juga tidak membaca karya ayahnya.“ “Tapi tadi Anda bilang, aku disuruh menerjemahkan Ulysses. Lalu siapa yang mengurus hak cipta karya-karya Joyce yang diterbitkan belakangan? Sebab aku pernah nonton film pada pameran Hermann Hesse beberapa tahun silam, kalau anak laki-lakinya Hesse yang sebagai tukang kayu itu, akhirnya berhenti bekerja dan hanya mengurus karya-karya ayahnya.“ Pak Senn menjawab, “Cucunya Joyce masih hidup, seorang laki-laki tinggal di Prancis. (Belakangan aku ketahui namanya Stephen Joyce). Tapi kalau Anda minta izin untuk menerjemahkan karya Joyce, dia selalu punya jawaban satu kata: No. Joyce meninggal pada tahun 1941, sedang peraturannya di Eropa setelah 70 tahun kematian penulisnya, baru bisa diterjemahkan tanpa perlu mengurus hak terbit.“
Aku masih ingin bertanya pada orang di depanku yang belakangan kubaca di brosur, ternyata dia ahlinya Joyce (Joycean). Dia sering diundang seminar membahas karya Joyce baik di dalam maupun di luar negeri. Lebih penasaran lagi, dua buku yang belakangan ku beli, pertama tentang biografi James Joyce dalam bahasa Jerman, karangan Richard Elmann diberi pengantar oleh Pak Senn ini. Kedua, buku panduan paling terkenal berjudul: A Guide through Ulysses, karangan Harry Blamires, ada ucapan terima kasih untuk Pak Senn. Makin jelas kedok orang tua ini, ternyata awalnya dia seorang pekerja biasa di bidang pengairan, lalu karena kegilaannya dan ketekunannya pada karya-karya Joyce, dia diangkat sebagai pimpinan Yayasan Joyce. Berkat keahliannya tentang karya-karya Joyce itulah Pak Senn pernah mendapat penghargaan Doktor Honoris Causa tiga kali, dari universitas Köln, Zürich, dan Dublin. Belakangan kutemukan data, kalau Pak Senn ini sebagai ahlinya Joyce nomor wahid di negara-negara berbahasa Jerman.
Kini aku mengajukan pertanyaan susulan, “Biasanya istri penulis punya andil besar pada karya suaminya, apakah peran Nora, istri Joyce itu bertindak seperti Vera, istrinya Nabakov atau Katia, istrinya Thomas Mann atau Jenny, istrinya Karl Marx? Bukankah Joyce pernah frustrasi ingin membakar naskah Ulysses, karena dia sakit mata?“ Dengan ringan dia jawab, “Nora tidak banyak tahu karya Joyce, bahkan tidak membacanya.“
Ranselku sementara masih bergantungan di pundak. Sebotol air mineral dan payung ada di dalam menambah beban. Aku mohon izin untuk menaruh ransel dan posternya di ruang lain. Karena waktu masih tiga jam lagi. Pak Senn sungguh seorang yang murah hati. Dia mempersilakan keperluanku. Bahkan dia pesan, agar aku datang ke ruangannya lagi. Dia akan tunjukkan sesuatu. Dalam hatiku merenda-renda keramahan pencinta sastra yang tentu saja punya andil besar dalam mendokumentasikan karya besar Joyce ini. Segera aku kembali ke ruang kerjanya. Dia mengambil map kuno dan memperlihatkan fotokopian tulisan tangan, “Ini naskah kopian Ulysses yang ditulis tangan oleh Joyce,“ kata Pak Senn. Aku terbelalak, melihat coretannya yang tidak beraturan. Di usia senjanya, Pak Senn masih antusias menerangkan karya Joyce. Lalu aku mengingat-ingat bacaan lamaku, “Pak Senn, 1,5 tahun lalu pada perayaan Bloomsday 16 Juni 2004, aku juga menulis sebuah esai yang dimuat koran nasional di Indonesia.“ Dia termangu sejenak, lalu meraih kamera warna hitam. Dia minta izin pada ku untuk memotretnya. Aku heran, apa untungnya memotret diriku, bisik sendiri dalam hati. “Bisa aku minta kopian esai Anda itu, akan aku dokumentasikan,“ pintanya merendah. “Aku usahakan,“ jawabku, meskipun sebenarnya sedikit bingung, sebab esaiku itu dimuat Koran Tempo satu setengah tahun lalu. Dan aku tidak memiliki koran tersebut, hanya naskah aslinya. Apalagi pada buku panduan kecil bertuliskan Yayasan James Joyce di Zürich itu juga mencantumkan beberapa potongan koran yang mengekpos Joyce, antara lain dari “The Korean Times.“ Sebuah koran lokal “Neue Zürcher Zeitung,“ misalnya menulis bahwa Yayasan Joyce itu tidak semata-mata hanya dibuka dan untuk menyimpan dokumentasi, namun lebih aktif memberi kesempatan keperluan penelitian.
Masih menurut buku panduan Yayasan James Joyce di Zürich itu, pada tahun 1978 didirikanlah sebuah pub yang bernama “James Joyce Pub.“ Di situlah sering diadakan diskusi tentang karya Joyce. Kemudian timbul banyak perkembangan pemikiran untuk melestarikan karya Joyce. Setelah itu pada 9 Mei 1985 dibentuklah sebuah Yayasan Joyce yang berkantor di bekas rumah Joyce, yakni di Augustinergasse nomor 28. Pada tahun yang sama diadakan kampanye besar-besaran tentang perlunya sebuah tempat yang permanen untuk Yayasan Joyce. Sejak 28 Maret 1989 perpustakaan Yayasan Joyce akhirnya dipindahkan ke gedung “Strauhof“ beralamat di Augustinergasse nomor 9. Gedung milik pemerintah daerah kota itu menyediakan empat ruangan. Dari sini acara mulai dipersiapkan lebih profesional, meliputi workshop, seminar, atau mengadakan acara tour bertajuk “Dublin Pilgrimage.“ Sebuah study-tour ke Dublin dengan napak tilas jejak Joyce di kota kelahirannya. Di samping itu pihak yayasan juga memberikan beasiswa pada peneliti asing tentang karya Joyce. Para mahasiswa asing itu diundang untuk tinggal di Zürich selama dua bulan. Untuk mengikuti perkembangan Yayasan Joyce bisa ditengok di website: http://www.joycefoundation.ch Suasana hening sejenak. Lalu aku mengajak bicara lagi, “Aku pernah membaca bukunya Anthony Burgess berjudul, “Joyce untuk Setiap Orang,“ (Joyce für Jedermann). Jernih sekali Burgess menganalisis. Bukankah dia sekarang di Inggris?“ tanyaku. Pak Senn cepat tanggap, dia menjawab, “Sekarang Burgess tinggal di Kanada, tapi beberapa tahun lalu Burgess datang kemari.“ Pada dasarnya Joyce tidak punya banyak karya. Yang pernah dia ciptakan antara lain: Ulysses, Dubliners, A Portrait of The Artist As A Young Man, Finnegans Wake, serta Stephen Hero, dan beberapa karyanya yang berupa cerpen dan puisi serta drama berjudul: Exiles. Terpengaruh Pak Senn yang cukup ringan tangan, maka aku tumbuh keberanian lebih untuk bertanya lagi, “Sejak kapan Joyce punya kesadaran menulis dan benarkah, hijrahnya Joyce dari Dublin ke negeri Eropa lain, karena faktor bangkrutnya usaha sang ayah dan kondisi Irlandia sebagai koloni Inggris Raya?“ “Faktor ekonomi di Irlandia saat itu juga masih buruk, di samping masih menjadi jajahan Inggris Raya,“ sahutnya. Aku terus menyusupkan pertanyaan, “Aku menemukan dalam Ulysses ada sekitar 40 halaman, Joyce nekad menulis tidak memakai tanda baca, baik koma, titik, atau pun tanda baca yang lain. Apakah ini sebuah eksperimen yang disengaja atau bagaimana. Bisa dijelaskan?“ Tangan Pak Senn menyeka rambutnya yang panjang ke belakang, lalu bilang, “Begini, sebuah imajinasi itu tidak bisa dibatasi dengan apapun. Apalagi tanda baca. Jadi biarlah imajinasi itu terus mengucur sesuai kendali penulisnya. Di samping saat Joyce menulis, pemakaian tanda baca belum begitu umum.“ Aku terdiam menelan masukan baru yang berbobot. Pertanyaan seperti itu sudah lama aku pendam dan nantikan jawabannya. Baru kali ini menemukan penjelasan. Belakangan aku menemukan tambahan informasi baru lagi dari buku biografi Joyce karangan Richard Ellmann, bahwa Joyce pada bab ke 18: Penelope, dengan sengaja menuliskan sebanyak 43 halaman tanpa tanda baca. Tapi sesungguhnya, bila diperhatikan lebih detil. Joyce hanya bermaksud menulis sebuah kalimat pertama mahapanjang, yakni sebanyak 2500 kata. Sedang episode ini terdiri atas 8 kalimat. Berawal dengan kata feminis:Yes dan berakhir dengan kata:Yes. Jadi Joyce selama 43 halaman tersebut hanya membubuhi satu titik saja. Pada keseluruhan bab: 18 itu, Joyce hanya menggambarkan sang tokoh perempuan Molly Bloom sedang bermonolog interior. Pada kesempatan yang berbeda, aku tanyakan ulang pada Pak Senn, benarkah Joyce hanya menulis satu kalimat panjang sebanyak 40-an halaman di bab 18: Penelope? Pak Senn menjawab, ada 2 atau 3 titik di tengah. Dan setelah aku selidiki lembaran sekitar 40 halaman itu aku temukan dua titik saja. “Nah, nanti sore itu kita akan membaca pada halaman-halaman yang tidak ada tanda bacanya,“ kata Pak Senn mantap, “dan beberapa minggu lagi bacaan yang sudah kami mulai sejak tiga tahun lalu, akan berakhir.“ Kaget sekali aku mendengar, pembacaan bersama Ulysses itu sudah dilakukan sejak tiga tahun silam. Hampir saja aku tidak percaya, maka kutanyakan lagi dan dia tetap membenarkan pernyataannya. Dalam hati aku bergumam, “Luar biasa, hanya membaca novel setebal 650-an halaman selama tiga tahun. Bagaimana caranya? Rasa penasaranku terus membukit.
Sambal
Tiba-tiba tema pembicaraan berubah total. Disebabkan dia tahu aku berasal dari Indonesia, lantas dia bilang, “Aku suka sambal.“ Seketika aku kaget, bagaimana seorang Swiss tahu kata sambal. Tentu tidak umum. Dari pembicaraan pelik, tentang Joyce membelok ke sambal. Sebelum aku desak, dia buru-buru menerangkan, “Sayang sekarang di mana-mana adanya Sambal Olek yang bisa dibeli di supermarket. Juga di restoran Asia, Sambal Olek itu rasanya tetap sama.“ “Dari mana Anda mulai mengenal dan suka sambal?“ tanyaku menyelidik. “Dulu sekali, aku ke Belanda. Pada saat makan aku diberi semacam saus oleh temanku. Aku pikir, apa ini? Lalu aku coba dan memang pedas sekali. Sejak itu aku tidak lupa pada rasanya dan ketagihan ingin mencoba terus.“ “Kalau aku punya sambal, nanti aku bawakan. Pedas mau?“ “Tidak apa-apa, justru aku suka sambal yang pedas.“ Dia berterima kasih atas janjiku. Memang sekarang ini di Swiss beredar sambal merk Sambal Olek botolan kecil produksi dari Belanda. Dan sambal buatan pabrik itu rasanya selalu sama. Bisa dimaklumi kalau Pak Senn lebih suka sambal buatan sendiri, pasti rasanya berbeda-beda. Dalam hati aku bilang, tak menyangka sama sekali, ternyata ahlinya Joyce, juga penggemar sambal dari Indonesia.
Reading Groups
Lama-lama aku capai sendiri. Iseng-iseng aku berdiri di tangga kayu, terlihat foto Presiden dari Irlandia mengunjungi Yayasan Joyce ini. Juga terpampang dua poster, Joyce mengenakan mantel hitam dan topi hitam berdiri di pinggir sungai Limmat. Yang terakhir ada foto di nisan Joyce tentang patung sebesar postur Joyce sedang duduk sembari memegang buku, kakinya menyilang. Di wajah patung itu menghadap pada seorang kakek yang sudah memakai tongkat. Ternyata kakek itu adalah Ezra Pound, salah satu sahabat lama Joyce. Mataku keluyuran lagi dan menatap dua kertas yang digantung di pintu masuk bertuliskan:
Reading Ulysses Every Tuesday: 17.30 . 19.00 Everyone may join at any time Reading Finnegans Wake Every ThursdayEarly: 16.30-18-00Late:19.00-20.30 Everyone welcome at any time. Dari pengumuman di atas aku mulai paham, setiap Selasa dan Kamis, Yayasan James Joyce ini menyelenggarakan kegiatan membaca bersama atau semacam “Reading Groups.” Dua karya besar Joyce yang dibaca adalah “Ulysses” dan “Finnegans Wake.” Pada daun pintu yang lain tertempel dua kertas pengumuman bertuliskan: Conference 11-17 06 2006XXth International James Joyce Symposium Budaphest The Tenth Annual Trieste Joyce School 25 June – 1 July 2006 University of Trieste. Pak Senn telah bersiap-siap mengatur kursi-kursi. Ada sebuah lap top warna metal dihubungkan dengan dua kabel kecil ke dua alat sekepal tangan. Ternyata baru aku tahu, alat sebesar kepalan tangan itu pengeras suara. Hanya aku dan Pak Senn berdua duduk di ruang itu. Di luar jendela, langit masih terang, angin yang terbawa masuk menyisakan butiran hujan kecil. Pak Senn mencoba lap top, sambil kepalanya menengadah ke samping kanan, “Lihatlah yang menggantung itu. Itu mata uang kertas resmi pemerintah Irlandia menggunakan wajah Joyce. Tapi sejak ada uang Euro, uang gambar Joyce tidak berlaku lagi.“ Aku mendekat pigura yang berisi uang bersih dan baru berwarna abu-abu dan putih dengan gambar wajah Joyce. Saat itu lamunanku kabur ke Kuba, pada uang kertas Peso, juga ada wajah Che Guevara. Di India, mata uang kertas Rupee bergambar wajah Mahatma Gandhi, serta di Vietnam, Dong sebagai mata uangnya bergambar wajah Ho Chi Minh. Tak ketinggalan, di China mata uangnya Yuan, juga bergambar wajah Mao. Begitulah kalau menjadi orang penting, senantiasa sosoknya diabadikan dalam mata uang negara. Sekitar pukul 17.10 datang seorang tua botak membawa buku besar Ulysses. Disusul seorang laki-laki setengah baya datang membawa buku sambil menuntun anjing berbulu putih halus. Orang itu duduk di samping kiri Pak Senn dan samping kanan ku. Anjingnya duduk tenang, kakinya dan bulunya yang basah dikeringkan dengan handuk biru. Ternyata orang yang datang membawa anjing itu sudah siap-siap membawa handuk khusus untuk anjing. Aku tersenyum dalam hati, anjing saja ikut serta membaca karya sastra. Susunan meja putih itu panjang melingkar. Diam-diam aku makin takut sendiri. Seperti apa nanti cara membaca Ulysses itu? Aku meraba-raba seperti cara sekolah di Indonesia. Biasanya guru di kelas menyuruh siswanya membaca dari ujung bangku ke ujung bangku yang lain. Giliran satu persatu. Apalagi Pak Senn bilang, akan membaca bersama. Tentu seperti model membaca di sekolah di Indonesia. Makin lama, makin banyak yang hadir. Menjelang pukul 17.30 aku hitung sudah ada 23 orang termasuk diriku. Mereka yang hadir kebanyakan orang tua-tua, sementara yang muda ada dua. Tak kusangka, Pak Senn mengagetkan konsentrasiku, “Write your name, I would introduce you to the other friends.“ Dia menyodorkan kertas putih kecil. Aku tulis namaku dengan huruf besar semua. Lagi-lagi dia berbahasa Inggris, “Have you got it?“ Dia menanyakan, apakah aku sudah memegang buku Ulysses, sebab aku juga memegang buku di meja, tapi bukan Ulysses. Orang yang membawa anjing tadi bangkit dan mengambilkan buku Ulysses untukku. Novel tebal warna hijau itu sudah di tangan. “About this,“ kata orang yang membawakan Ulysses dan menunjuk satu kata di halaman 614 tertulis: Floey. Hatiku makin teremas-remas. Benar dugaanku, pastinya tiap orang disuruh membaca satu persatu. Apalagi aku toleh ke kanan dan kiri, semua memegang bukunya Joyce. Aku mencoba melagukan intonasi bahasa Inggris dalam hati, sembari membaca dari kata ke kata juga dalam hati. Perasaanku saat itu, bagaimana kalau intonasiku berlagu melayu? Apakah tidak ditertawakan orang-orang bule di situ? Apalagi aku sudah lama tak menggunakan bahasa Inggris secara lisan. “Good evening every body, as you know we have a guest from Indonesia, but he lives here quite long time. His name is Sigit Susanto,“ sambut Pak Senn ramah. Para hadirin melongokkan wajah ke arahku, membuat aku semakin grogi dan mengerut. Sesaat kemudian, suara dari dua pengeras suara kecil itu melantunkan cerita dalam bahasa Inggris. Semua orang terdiam, tapi serius menyimak dari kata ke kata. Pada awalnya aku kehilangan jejak. Cepat sekali laju cerita dari CD itu. Aku tak bisa menemukan lagi pada kalimat mana yang dibicarakan. Aku melirik ke samping kiri. Sialan, orang di sampingku itu justru membaca dalam bahasa Jerman. Bagaimana mungkin, mata membaca dalam bahasa Jerman, sementara telinga mendengar dalam bahasa Inggris. Tak ada suara berisik, anjingpun ikut mendengarkan dengan saksama. Aku pura-pura mengerti, biar tidak dianggap terlalu bodoh. Termasuk kalau para hadirin tertawa, aku pura-pura membuka mulut sedikit, pertanda ikut merasakan yang mereka dengar. Walau aku masih menyimpan ketegangan yang marak. Akhirnya aku sempat menangkap kata per kata yang sedang diucapkan dalam CD. Nah, ini kalimatnya kutangkap. Langsung kuikuti menyesuaikan ritme ucapan di CD. Sebetulnya cukup pelan, namun aksen Irlandianya mungkin, membuat pengertiannya samar-samar. CD dimatikan. Pak Senn mulai berbicara dalam bahasa Inggris. Aku cepat maklum, karena teksnya dalam bahasa Inggris, maka beralasan tentunya, bila dia juga bicara dalam bahasa Inggris. Pak Senn membaca dari kalimat ke kalimat seperti di CD. Lalu dia jelaskan panjang lebar, makna yang tersembunyi. Sesekali dia menawarkan, sekiranya ada yang ingin bertanya? Seorang ibu bertanya, apa artinya singkatan DBC dalam teks tersebut? Pak Senn menerangkan DBC berasal dari Dublin Backery Company. Di tengah-tengah pembahasan teks itu aku melihat ada seorang ibu tua memangku Ulysses dengan membawa kaca pembesar. Sekali lagi, bukan kaca mata. Tapi kaca pembesar bundar yang ada tangkai seperti saringan jeruk. Kemudian CD dibunyikan lagi, dan para hadirin menyimak dari kalimat ke kalimat. Lagi-lagi hanya 1,5 halaman berhenti dan Pak Senn membaca ulang. Kini tiba pada sebuah ungkapan yang sulit, tertulis “black closed breeches.“ Para hadirin ingin tahu jenis celana yang digambarkan Joyce itu seperti apa? Pak Senn membalikkan badan sembari menarik sebuah amplop besar dari karton, lalu dia keluarkan isinya. Dua celana pendek warna krem bahannya seperti dari karung terigu. Kedua celana pendek itu bentuknya seperti celana kolor, namun ada talinya panjang. Mungkin saja itu celana kuno model Irlandia dan membuat banyak orang tertawa. Setelah Pak Senn usai membaca dan menerangkan, dimulai lagi mendengarkan cerita ketiga. Seperti biasa, orang-orang menyimak dan Pak Senn memaparkan isi teks. Seorang ibu bertanya, “He kissed my heart.“ Pak Senn menjawab, sangat sulit menerangkan arti mencium hati. Yang menarik perhatianku, juga aksen bahasa Inggris Pak Senn mirip orang Inggris. Pelan-pelan, aku sadari orang yang membawa anjing tadi dan duduk di samping Pak Senn, dia menghadap dua buku. Satu novel Ulysses, yang lainnya buku tebal tertulis di sampul “Ulysses Annotated” karangan Don Gifford. Buku Annotated inilah ibarat leksikonnya Ulysses. Sebab kalau Pak Senn agak kesulitan menerangkan, maka orang di sebelahnya membacakan arti yang ditanyakan. Jendela ruangan dibuka oleh Pak Senn atas permintaan ibu-ibu, karena udara pengap dan mulai membuat orang ngantuk. Tak begitu lama lagi, acara pembacaan bersama selesai. Masing-masing orang berdiri dan mengembalikan Ulysses di rak. Sebagian besar tampak membawa pulang, mungkin memang novel-novel itu miliknya sendiri. Di dekat pintu aku berbasa-basi dengan seorang ibu sembari menanyakan, sudah berapa lama dia ikut membaca bersama? Ibu itu mengaku sudah dua tahun. Sedang ibu yang lainnya, menjawab hampir tiga tahun. Lalu apa yang bisa aku petik dari berjam-jam di situ. Tentu, sebuah pengalaman sangat berharga. Tidak pernah aku bayangkan ada pembacaan sebuah novel yang memerlukan waktu tiga tahun. Tentu saja, kalau pembacaan seminggu sekali selama 1,5 jam itu hanya mampu menjangkau tiga halaman. Proses pembacaan benar-benar seperti siput sawah. Bagaimana tidak, caranya sangat teliti dan jeli. Dari kalimat ke kalimat dikupas. Kalau boleh aku perinci ulang, pertama mendengarkan cerita dari CD, kedua dibaca teksnya, ketiga dibahas kembali secara detil. Dan sejak kunjunganku yang pertama ini, aku menjadi murid tetap Reading Groups untuk Ulysses. Seperti kita tahu, Joyce memerlukan waktu selama 8 tahun untuk menyelesaikan karya besar itu. Hitung-hitung sebagai pembaca seimbanglah, bila melakukan pembacaan dengan pelan dan memerlukan waktu tiga tahun. Ya, hampir separuhnya waktu yang dipergunakan oleh Joyce untuk menulis. Akhirnya aku tercenung. Aku punya bayangan nakal bahwa orang tua-tua di situ menyusuri sisa-sisa hidupnya dengan mengempit Ulysses yang tebal untuk bekal sebuah pencarian makna sastra. Sementara itu di belahan negeri-negeri lain, termasuk di negeriku orang tua-tua berbondong-bondong mengempit kitab suci tebal untuk bekal mencari makna hidup. Mereka sama-sama mencari ketenangan batin, di masa senjanya. Setidaknya aku lolos dari dugaan sebelumnya, yang kukira disuruh membaca satu persatu. Ternyata hanya mendengarkan, menyimak, dan mencoba memahami. Orang-orang bergegas mengenakan jaket. Aku pamitan dengan Pak Senn. Dia memintaku menuliskan sesuatu dalam buku tamu. Ketika aku bilang, sudah. Dia meminta ku lagi menuliskan dengan bahasa Indonesia. Mungkin dia pikir, huruf bahasa Indonesia akan mirip dengan huruf bahasa Sanskerta agar lebih berbau orientalis. Asal berbeda dengan abjad Eropa. Bisa jadi dia akan kecewa, ternyata bahasa Indonesia berhuruf Latin. Maksud hati melihat pameran Brecht, justru bisa mengikuti pembacaan Ulysses. Malang yang membawa nikmat.
Pada acara pembacaan berikutnya aku membawa satu botol kecil berisi sambal tomat buatan Komang, tetangga satu kota berasal dari Buleleng, Bali. Pak Senn senang dan berterima kasih. Sayang, aku tak sampai mengikuti pembacaan akhir Ulysses. Aku keburu mudik ke tanah air. Menjenguk kampung halaman dan teman-teman serta keluarga.
Terjemahan Indonesia?
Ketika aku kembali ke Swiss lagi, aku membawa oleh-oleh untuk Pak Senn berupa dua karya Joyce yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kedua buku terjemahan tersebut secara kebetulan aku temukan saat menengok teman-teman di toko buku Ultimus, Bandung. Judul kedua karya Joyce itu adalah “Dubliners“ dan “A Potrait of the Artist as a Young Man“ yang diterjemahkan oleh Wawan EkoYulianto dan diterbitan oleh Jalasutra. Aku buru-buru bertanya Pak Senn, “Apakah sekiranya terjemahan bahasa Indonesia ini tidak melanggar hak terbit?“ “Oh, tidak apa-apa,“ jawabnya. Bu Ursula, teman Pak Senn penasaran dan bertanya kala itu, “Apakah terjemahan bahasa Indonesia itu menggunakan alfabet lain?“ Aku jawab, “Dengan huruf latin.“ Pak Senn bermaksud akan mengganti ongkos kedua buku, namun segera aku bilang, untuk oleh-oleh agar koleksinya karya Joyce dari berbagai bahasa dunia lengkap. Dia berterima kasih, lalu pergi. Ketika dia muncul lagi sudah membawa buku lain berjudul Dubliners dalam bahasa Albani, tertulis di sampul, “Dublinasit.“
Dalam benakku bersarang sebuah harapan, kapan Ulysses bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia? Kalau melihat koleksi Ulysses dari berbagai bahasa dunia di Yayasan James Joyce itu, timbul rasa iri. Ah, sebagai bangsa yang konon besar dengan jumlah penduduk 220 juta, tapi Ulysses belum punya. (Sigit Susanto)
diposkan 16 November 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar